Kesenian Tari Gandrung Banyuwangi jadi Kebanggaan Anak Muda

Topik kita kali ini ialah Kesenian Tari Gandrung Banyuwangi jadi Kebanggaan Anak Muda. Tari Gandrung resmi menjadi maskot pariwisata Banyuwangi dengan adanya patung Gandrung saat melewati perbatasan Banyuwangi-Jember. Kesenian ini dipopulerkan oleh Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dengan mementaskannya di beberapa daerah seperti Surabaya, Jakarta, Hongkong, dan beberapa kota di Amerika Serikat.

Kesenian Tari Gandrung Banyuwangi

Penampilan Penari Gandrung di Istana Negara

Selanjutnya, tarian ini semakin dikenal secara lebih luas oleh masyarakat Indonesia. Yaitu setelah diundang untuk memeriahkan peringatan hari Sumpah Pemuda dan juga dalam upacara Kemerdekaan Indonesia di Istana Merdeka. Selain itu juga terdapat festival tari Gandrung Sewu setiap tahunnya.

Penampilan kolosal 216 penari Gandrung asal Banyuwangi menjadi pembuka upacara detik-detik Proklamasi di Istana Merdeka di tahun 2017. Ratusan pelajar SMP dan SMA dari Banyuwangi menampilkan kesenian ini dengan sentuhan kreasi baru yang diberi nama Jejer Kembang Menur. Penampilan Tari Gandrung Banyuwangi di Istana Negara diawali dengan kemunculan penari dari sisi kanan, lalu disusul sebagian penari lainnya di sisi kiri.

Mereka bertemu di tengah lapangan dengan membentuk formasi tiga baris. Seragam dominan merah menjadi aksen yang mencolok di tengah rerumputan yang hijau. Kipas berwarna merah dan putih yang menjadi aksesoris seolah menjadi kibaran bendera saat penari bergerak menggelombang. Di penghujung atraksi, para penari membentuk formasi 72 sesuai usia kemerdekaan saat itu.

Sejarah Kesenian Tari Gandrung Banyuwangi

Bukan tanpa alasan untuk menampilkan kesenian daerah ini sebagai pembuka upacara detik-detik Proklamasi Kesenian daerah asal Banyuwangi ini, menilik sejarahnya, konon ia muncul untuk memerangi penjajah melalui kostumnya. Yaitu pada saat dibabatnya hutan Tirta Arum untuk membangun kembali ibu kota Blambangan akibat penyerbuan kompeni yang dibantu oleh kerajaan Mataram dan Madura untuk merebutnya dari kekuasaan Mangwi.

Perang tersebut berakhir dengan kemenangan kompeni yang memakan banyak korban. Selain itu, banyak juga rakyat yang melarikan diri terpencar ke hutan dan menderita. Kesenian Tari Gandrung Banyuwangi awalnya muncul dan dilakukan oleh kaum laki-laki dengan membawa peralatan musik perkusi berupa kendang dan beberapa rebana.

Mereka berkeliling setiap hari mendatangi tempat yang dihuni oleh sisa rakyat Blambangan sebelah timur untuk melakukan Tari Gandrung dan mendapatkan semacam imbalan dari penduduk yang mampu untuk kemudian dibagikan kepada mereka korban perang yang kondisinya memprihatinkan. Setelah hutan Tirta Arum selesai dibabat kemudian dikenal dengan nama Banyuwangi.

Sejarah Tari Gandrung Perempuan

Tari Gandrung Banyuwangi untuk laki-laki lenyap pada tahun 1914, disebabkan oleh meninggalnya penari terakhir, yakni Marsan. Pada mulanya, Gandrung hanya boleh ditarikan oleh para keturunan penari Gandrung sebelumnya. Selanjutnya Gandrung mengalami perkembangan dengan adanya Gandrung perempuan pertama yang dikenal dalam sejarah adalah Semi, seorang anak kecil yang pada tahun 1895 masih berusia sepuluh tahun.

Ketika itu, Semi menderita penyakit yang cukup parah. Segala cara sudah dilakukan hingga ke dukun, tapi belum memberikan hasil, sehingga ibu Semi (Mak Midhah) bernazar: “Kadhung sira waras, sun dhadekaken Seblang, kadhung sing yo sing” yang artinya: “Bila kamu sembuh, saya jadikan kamu Seblang, kalau tidak ya tidak jadi”. Ternyata, akhirnya Semi sembuh dan dijadikan seblang sekaligus memulai babak baru dengan ditarikannya gandrung oleh perempuan.

Tradisi Gandrung yang dilakukan oleh Semi ini kemudian diikuti oleh adik-adik perempuannya dengan menggunakan nama depan Gandrung sebagai nama panggungnya. Sejak tahun 1970-an, mulai banyak gadis-gadis muda yang bukan keturunan gandrung mempelajari tarian ini dan menjadikannya sebagai sumber mata pencaharian di samping mempertahankan eksistensinya yang makin terdesak sejak akhir abad ke-20.

Tahapan Kesenian Tari Gandrung

Tari Gandrung Banyuwangi merupakan sebuah ritual yang ditujukan untuk mengungkapkan kekaguman masyarakat Banyuwangi pada Dewi Sri, seorang dewi yang dalam mitologi Hindu Jawa Kuno dianggap sebagai Dewi Padi atau Dewi kesejahteraan yang telah memberikan hasil panen berlimpah pada masyarakat. Dalam pertunjukannya, Seni Tari Gandrung terbagi menjadi tiga babak,

  1. Pertama dibuka dengan Jejer yang merupakan bagian di mana penari menyanyikan lagu dan menari sendiri.
  2. Kemudian dilanjutkan dengan Paju atau yang di daerah lain disebut Ngibing, yaitu penari memberikan selendangnya kepada tamu yang datang untuk diajak menari.
  3. Pada babak terakhir adalah Seblang subuh yaitu penutup, di mana penari menari dengan penuh penghayatan mengibaskan kipasnya sesuai irama sambil bernyanyi.

Pada bagian terakhir akan sangat terasa kesan mistisnya. Hal ini masih berhubungan dengan ritual Seblang, yaitu suatu ritual penyembuhan atau penyucian yang dilakukan oleh penari zaman dahulu. Namun, di masa sekarang ini bagian Seblang subuh sudah mulai jarang digunakan, meskipun merupakan bagian penutup pertunjukan Tari Gandrung.

Pakaian Penari Gandrung

Busana penari dalam Tari Gandrung Banyuwangi pada masa kini terdiri dari penutup badan, bawahan, dan hiasan kepala. Bagian badan penari Gandrung ditutupi bahan beludru berbenang emas dan berselendang. Untuk kostum bagian bawah, biasanya menggunakan jarik (kain) batik, dengan motif yang paling umum adalah corak Gajah Oling. Sebagai hiasan kepala, digunakan omprok, semacam mahkota dari kulit kerbau dengan ornamen berwarna. Selain itu, biasanya penari Gandrung membawa 1-2 buah kipas.

Festival Gandrung Sewu Banyuwangi

Festival Gandrung Sewu menjadi salah satu acara tahunan Banyuwangi yang digelar sejak menjadi upaya untuk kelestarian Tari Gandrung Banyuwangi. Atraksi budaya tahunan ini menyajikan penampilan kolosal lebih dari seribu penari Gandrung yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Festival Gandrung Sewu telah menjadi sarana bagi tumbuhnya rasa bangga warga terhadap seni budayanya. Padahal, tahun pertama penyelenggaraan festival tari Gandrung ini, sangat sulit mencari pelaku seninya atau penarinya. Namun, saat ini, minat anak-anak muda naik tajam. Hal ini menjadi tanda akan betapa bangganya rakyat terhadap seni budayanya.

Sekian info berkaitan dengan Kesenian Tari Gandrung Banyuwangi jadi Kebanggaan Anak Muda, kami harap post ini berguna buat kalian. Kami berharap post Wisata Kesenian di Banyuwangi Jawa Timur ini dishare agar semakin banyak yang mendapat manfaat.

Referensi:

Leave a Reply

Affiliate Marketing Internet Entrepreneur Jualan Online SEO Situs Jualan Situs Klik Traffic Generation Website
Pola Hypnotic Closing
Pola Hypnotic Closing bagi Penjual Online Pemula
Strategi Viral Marketing
Strategi Viral Marketing untuk Mempromosikan Bisnis Online
Rekening Online Paypal
Rekening Online Paypal Alat Pembayaran Global

Hobi

Hewan Peliharaan Koleksi Liburan Olahraga Otofun Seni

Hunian

Bangunan Furniture Kebun dan Tanaman Rumah Tempat Tinggal

Menarik

Kecantikan Kesehatan Motivasi dan Inspirasi Parenting Tips Lainnya Tips Pendidikan

Rumah Tangga

Belanja Fashion Ide Kreatif Peralatan Perlengkapan Tips Rumahan
Meningkatkan Fungsi Otak
Meningkatkan Fungsi Otak secara Alami dengan Berpuasa
Mengurangi Lemak Tubuh
Mengurangi Lemak Tubuh secara Alami dengan Puasa
Manfaat Puasa bagi Manusia
Manfaat Puasa bagi Manusia yang Perlu Diketahui
Menurunkan Berat Badan
Menurunkan Berat Badan lewat Puasa
Vitamin C bagi Ibu Hamil
Pentingnya Vitamin C bagi Ibu Hamil dan Janin
Bahayanya Kotoran Lalat
Bahayanya Kotoran Lalat bagi Kesehatan Manusia
Bahaya Minum Kopi Saat Menyusui
Bahaya Minum Kopi Saat Menyusui
Pentingnya Air dan Oksigen
Pentingnya Air dan Oksigen Bagi Tubuh Manusia

Fauna

Fakta Hewan Hewan Fantastis Hewan Langka Hewan Legenda Hewan Paling Hewan Prasejarah

Sains

Alam Fakta Makanan Flora Manusia Semesta

Sosial

Bangunan Paling Fakta Negara Kehidupan Prasejarah Sejarah Seni Budaya Paling Tokoh

Teknologi

Gadget Komputer
Desa Wisata Kerajinan Kuliner Minat Khusus Seni Budaya Wisata Alam Wisata Religi Wisata Sejarah
Kampung Dinoyo
Kampung Dinoyo Bertumbuh Berkat Keteguhan Pengrajin
Pintu Gua Sigolo-Golo
Pintu Gua Sigolo-Golo bagai Hamparan Surga
Candi Arimbi Gerbang Keraton Majapahit
Candi Arimbi Gerbang Keraton Majapahit sebelah Selatan