Anak Anda sudah menginjak masa remaja? Sudah saatnya Anda sebagai orangtua untuk mengajarkan kemandirian pada anak yang menginjak remaja. Simak selengkapnya di artikel tips parenting ini hingga selesai.

Pengenalan Kemandirian
Setiap orang tua mengharapkan kemandirian pada anaknya. Mengajarkan kemandirian pada anak, seharusnya orangtua lakukan sedini mungkin.
Pengenalan kemandirian orangtua lakukan segera setelah anak bisa :
- orangtua ajak berkomunikasi, dan
- menjalankan perintah sederhana.
Artinya, usaha mengenalkan kemandirian pada anak, mulai orangtua lakukan sejak anak berada di tahun-tahun pertama kelahirannya. Untuk dapat mengajarkan kemandirian pada anak, butuh kerja sama dari semua pihak, stakeholder yang berhubungan dan berinteraksi dengan anak. Misalnya seperti :
- orang tua,
- keluarga terdekat,
- dan juga pengasuhnya.
Usaha mengajarkan kemandirian pada anak, perlu pengertian yang sama antar semua stakeholder di rumah. Ini artinya untuk hal-hal dasar, semua pihak membiarkan dan mengajarkan anak untuk melakukan tugasnya sendiri. Walaupun orangtua menyediakan pengasuh di rumah.
Memberikan tanggung jawab pada anak dan membiarkan mereka melakukannya sendiri, tanpa ataupun dengan bantuan minimal dari orang dewasa akan membangun rasa percaya diri dan kemandirian anak.
Yang seringkali menjadi hambatan untuk mengajarkan kemandirian pada anak, adalah kesempurnaan yang orangtua harapkan saat anak mengerjakan tanggung jawabnya. Padahal jika boleh jujur, mengharapkan nilai sempurna pada anak itu sama dengan pungguk merindukan bulan.
Mengenalkan tanggung jawab sederhana pada anak, artinya kita harus siap untuk menghadapi ketidaksempurnaan-ketidaksempurnaan yang merupakan tanda awal belajar. Seluruh stakeholder yang terlibat harus siap dan bersabar menghadapi ketidaksempurnaan ini.
Dari setiap ketidaksempurnaan, anak menjalani proses belajar dan mengasah kemampuan kognitifnya. Sayangnya, bentuk ketidaksempurnaan dari proses belajar anak seringkali membuat rusuh dan berantakan rumah.
Sehingga lebih mudah membantu anak, daripada mengizinkan mereka melakukan tanggungjawabnya. Fenomena kedua orangtua bekerja, dan anak ditunggui oleh pengasuh juga membuat proses belajar kemandirian anak menjadi tidak lengkap.
Pengasuh memiliki kecenderungan untuk membantu. Bahkan mengerjakan tugas anak sehingga anak kehilangan kesempatan belajar.
Menyediakan pengasuh yang membantu kelancaran kehidupan harian anak, akhirnya menjadi buah simalaka terhadap kemandirian anak. Anak terbiasa orang lain bantu dan siapkan kebutuhan hariannya. Dan juga cenderung mengandalkan orang lain untuk memenuhi kebutuhannya.
Sindrom Helicopter Parents
Fenomena ini kadang semakin parah dengan adanya sindrom ‘helicopter parents’. Di mana orangtua selalu mengawasi dan mengambil keputusan untuk anak. Saat anak masih bayi ataupun di bawah lima tahun, bantuan orangtua untuk mengambil keputusan memang sangat anak butuhkan.
Namun saat anak beranjak remaja, mereka perlu memiliki kemampuan menimbang, memperhatikan, membandingkan, memilih, dan mengambil keputusan untuk dirinya sendiri. Kemampuan ini hilang, jika sejak kecil anak selalu orangtua lindungi, bantu, dan ambil kesempatannya untuk mengambil keputusan.
Memasuki usia remaja, anak sudah memiliki kemampuan berpikir logis. Dan ego dirinya untuk menunjukkan kemampuannya semakin keluar ke permukaan.
Namun, jika sejak kecil anak tidak orangtua kenalkan pada konsep kemandirian, maka kemampuannya akan tumpul. Anak selalu membutuhkan pendapat orang tua, membutuhkan pengakuan orang lain bahwa setiap tindakannya benar.
Pada fase ini, orang tua malahan menjadi khawatir karena anak tidak menunjukkan kemandiriannya sama sekali, atau malah menunjukkan pembangkangan yang luar biasa karena ingin menunjukkan kemampuannya, bahwa ‘aku bisa’.
Mengajarkan Kemandirian pada Anak
Perlakukan anak bagai raja di 7 tahun pertama kehidupannya perlakukan anak bagai tawanan di 7 tahun kedua kehidupannya. Dan perlakukan anak sebagai sahabat di 7 tahun ketiga kehidupannya. Prinsip inilah yang orangtua gunakan dalam mengajarkan kemandirian pada anak.
Di usia menjelang pubertas, ajarkan anak tanggung jawab dengan menerapkan sistem reward and punisbment. Mengajarkan anak efek jera, saat mereka lalai melakukan tanggung jawabnya.
Di usia remaja, anak tidak melulu berada dekat dengan orang tua saat melakukan aktivitas. Anak lebih sering menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Saat berada di luar kontrol orangtua inilah dibutuhkan kemandirian anak.
Kemampuan yang mutlak penting anak miliki yaitu untuk mengenali :
- mana yang dibolehkan dan mana yang perlu dihindari,
- mana yang harus diikuti dan mana yang perlu ditolak,
- mana yang baik dan kurang baik,
- dan lainnya.
Dan kemampuan ini sangat dipengaruhi oleh kemandirian, anak harus bisa mengambil keputusan :
- kapan sesuatu harus anak tolak dengan tegas,
- kapan harus menerima sesuatu,
- dan lainnya.
Ini anak butuhkan, karena tidak selamanya mereka berada di bawah lindungan sayap orang tua.
Baca juga : Cara Terapkan Pola Asuh Satu Kepala pada Anak
Demikian informasi berkaitan dengan mengajarkan kemandirian pada Anak yang menginjak remaja, kami harap postingan kali ini bermanfaat buat teman-teman semua. Tolong post tips parenting ini kalian bagikan supaya semakin banyak yang memperoleh manfaat.




Add comment