Mengajarkan Anak Menghadapi Kegagalan

Pasti semua orang pernah merasakan suatu kegagalan! Termasuk anak-anak kita. Sebagai orang tua yang bijak, kita harus mengajarkan anak menghadapi kegagalan. Hal ini agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada anak kita.

Mengajarkan Anak Menghadapi Kegagalan

Kasus Kegagalan

Beberapa saat yang lalu, pernah ramai di berita dan media sosial, seorang mahasiswa sebuah universitas ternama di negeri ini ditemukan tewas bunuh diri.

Sebuah koran berita online membahas bahwa sang mahasiswa mendapatkan nilai kurang memuaskan pada mata kuliah. Ternyata, itu adalah kegagalan pertama yang dialaminya selama 17 tahun hidupnya.

Pada sebagian dari kita, mungkin alasan menghilangkan nyawa hanya karena nilai mungkin terasa janggal. Tapi mereka menganggap hal ini sedemikian serius, hingga akhirnya gelap mata.

Ketidakmampuan diri untuk menerima kegagalan, itulah yang terjadi. Walaupun tidak bisa secara naif menyalahkan sistem pendidikan dan pola asuh orang tua yang tidak mengajarkan anak menghadapi kegagalan. Namun ada kesalahan yang terjadi di sini.

Sistem Pendidikan di Indonesia

Tidak menutup mata bahwa sistem pendidikan di negeri ini masih mengelu-elukan keunggulan akademis. Sejak dini, orang tua sudah mulai menetapkan target-target akademis yang perlu dilalui oleh anak-anak mereka.

Yang paling sederhana adalah berlomba-lomba membuat anak pandai membaca, menulis, dan berhitung (calistung). Jauh sebelum perkembangan psikologis anak siap untuk menerima hal-hal tersebut.

Sekolah-sekolah pun tak kalah menekan, mereka menyediakan syarat bisa calistung untuk anak bisa lolos menjadi siswa mereka. Pendidikan model apa ini? Anak dipaksa dewasa sebelum waktunya dengan diminta mahir melakukan hal-hal yang belum perlu dikuasai.

Yang menyedihkan, pemerintah seperti menutup mata akan hal ini. Walaupun menyatakan calistung bukan syarat anak diterima di sekolah dasar, namun aturan tinggal aturan.

Sekolah berburu murid-murid ‘pintar’ untuk memudahkan guru-guru mengajarkan berbagai pelajaran yang belum perlu dilakukan. Coba saja, saat ini kita periksa materi pelajaran anak kelas satu SD, bukan lagi mengajarkan hal-hal sederhana.

Anak sudah dipaksa untuk mengerjakan soal seperti ini: ‘Setiap bangun tidur, kita harus ____’. Hal ini membuat guru dan orang tua bekerja keras. Yaitu untuk memacu anak bisa sampai ke tingkat kemahiran berbahasa yang tidak sesuai dengan usianya.

Belum lagi sekolah-sekolah yang menyediakan kelas akselerasi bagi siswanya yang pihak sekolah anggap mampu. Anak pada dasarnya adalah pembelajar yang cerdas, sehingga ia bisa menyesuaikan diri saat diajak masuk ke lingkungan yang paling kompetitif sekalipun.

Secara kemampuan berlogika, anak memang kita persiapkan khusus di kelas akselerasi. Namun apakah perkembangan psikologisnya juga kita perhatikan seperti halnya kemampuan akademiknya?

Pada banyak kasus, justru perkembangan psikologis anak kurang mendapatkan perhatian. Padahal dengan perbedaan usia 1 – 2 tahun di bawah teman-teman sekelasnya, anak akan mengalami kesenjangan psikologis.

Dampak ini tidak dapat anak kita lihat langsung, baru akan mereka rasakan beberapa tahun ke depan. Karena anak melompati beberapa tahap perkembangan psikologis.

Pola Asuh Orang Tua

Ini juga memainkan peranan penting dalam pendidikan anak salah satunya mengajarkan anak menghadapi kegagalan. Berapa banyak orang tua yang sering memuji dengan kalimat seperti ini, “Nah, gini dong. Ini baru anak pintar, anak Mama Papa.”

Lalu, kalau anak mendapatkan nilai kurang memuaskan, si anak bukan lagi anak mama dan papanya? Terus jadi anak siapa? Anak kucing? Secara tidak langsung ini mengancam anak, ‘Awas ya, kalau nilainya jelek, mama papa tak menganggapmu anak’.

Di sisi lain, orang tua menuntut kesempurnaan yang berlebihan pada anak. Sehingga saking takutnya anak mendapatkan nilai jelek, orang tuapun turun tangan membantu bahkan secara sukarela mengerjakan tugas anak.

Anak kita ajarkan untuk mendapatkan nilai sempurna. Anak kita tuntut mendapatkan nilai yang terbaik. Apa kompensasi dari kondisi ini? Anak selalu mengandalkan bantuan orang lain untuk mengerjakan anak bagaimana cara menghadapi kegagalan.

Gagal merupakan bagian dari proses belajar. Mengajarkan anak menghadapi kegagalan, sama halnya dengan mengajarkan anak proses kehidupan. Dalam hidupnya, anak akan mengalami aneka peristiwa yang merupakan rangkaian dari :

  • kegagalan,
  • keberhasilan,
  • kegagalan,
  • keberhasilan,
  • dan begitu seterusnya.

Melindungi anak dari kegagalan, karena takut anak kecewa sebenarnya telah mengambil hak belajar anak. Yaitu hak belajar mengenali sebuah peristiwa penting dalam hidup dan kehidupannya.

Kegagalan bukanlah suatu yang harus anak hindari, namun bisa anak antisipasi kedatangannya. Bukannya kita mengharapkan datangnya kegagalan, namun gagal adalah bagian dari proses belajar.

Bayi yang belajar berjalan pun, mengalami banyak kegagalan sebelum akhirnya bisa melangkah dengan sempurna. Jadi mengajarkan anak menghadapi kegagalan adalah tugas orang tua juga.

Mengajarkan Anak Menghadapi Kegagalan

Kembali pada peristiwa di atas, hal ini kemungkinan besar terjadi karena anak tidak mengerti bagalmana cara menghadapi kegagalan. Saat mengalami kegagalan, respon pertama yang akan muncul pasti kekecewaan.

Kecewa karena :

  • tidak dapat memenuhi ekpektasi pribadi.
  • takut dimarahi dan tidak disayang orang tua.
  • mungkin mendapat hinaan dari teman atau guru.

Yang pasti saat mengalami kegagalan, hati dan pikiran dipenuhi oleh berbagai emosi yang perlu diurai dan diakui keberadaannya. Dengan mengakui keberadaan emosi, artinya kita sudah masuk ke tahap awal memahami emosi tersebut.

Langkah selanjutnya adalah menyelami dan memberi nama emosi yang sedang anak rasakan. Kemudian mulai merasakan emosi tersebut dan belajar menghadapinya.

Tahap-tahap mengajarkan anak menghadapi kegagalan di atas perlu orang tua lakukan. Agar anak mengetahui cara menghadapi kegagalan.

Apakah dengan mengajarkan anak menghadapi kegagalan saja sudah cukup? Tentunya mendampingi anak menghadapi kekecewaan dan menuntun mereka untuk keluar dari emosi yang mereka rasakan. Kemudian menyusun kembali rencana hidup selanjutnya.

Pendampingan adalah faktor paling penting dalam mengajarkan anak menghadapi berbagai emosi yang mereka rasakan. Dengan memberikan pendampingan, secara tidak langsung anak teryakinkan bahwa kegagalan adalah sebuah proses biasa dalam kehidupan.

Yang paling penting dari kegagalan adalah pelajaran untuk bangkit dan mencoba kembali. Sikap ini perlu kita ajarkan sejak dini, sehingga setelah besar sudah tahan banting.

Termasuk ketika sudah besar dan membuka bisnis rumahan sendiri. Di mana suatu saat bisnis tersebut gagal, anak Anda akan bangkit dan mencobanya kembali. Gagal lalu bangkit lagi. Begitu seterusnya.

Demikian info berkaitan dengan mengajarkan anak menghadapi kegagalan, kami harap postingan kali ini berguna buat teman-teman semua. Mohon artikel parenting ini dishare supaya semakin banyak yang mendapat manfaat.

Referensi : Deasy Aryani

Leave a Reply

Marketplace Penghasilan Online Rekening Online SEO Traffic Generation Website
Tips Memilih Hosting Berkualitas
Tips Memilih Hosting Berkualitas dan Terbaik untuk Website
Domain dan Hosting
Seluk Beluk Domain dan Hosting yang Perlu Anda Ketahui
Peta Internet Marketing
Peta Internet Marketing secara Garis Besar

Hobi

Hewan Peliharaan Koleksi Liburan Olahraga Otofun Seni

Hunian

Bangunan Furniture Kebun dan Tanaman Rumah Tempat Tinggal

Menarik

Kecantikan Kesehatan Motivasi dan Inspirasi Parenting Tips Lainnya Tips Pendidikan

Rumah Tangga

Belanja Fashion Ide Kreatif Peralatan Perlengkapan Tips Rumahan
Nabi yang Diutus di Palestina
Nabi yang Diutus di Palestina Negeri Para Anbiya
Mengurangi Lemak Tubuh
Mengurangi Lemak Tubuh secara Alami dengan Puasa
Manfaat Puasa bagi Manusia
Manfaat Puasa bagi Manusia yang Perlu Diketahui
Menurunkan Berat Badan
Menurunkan Berat Badan lewat Puasa
Jenis Bahan Kain Tekstil dalam Industri Fashion
Program Kejar Paket A Setara SD
Jenjang Pendidikan Dasar di Indonesia Saat Ini
Harga Cash dan Kredit Berbeda, Bolehkah?

Fauna

Fakta Hewan Hewan Fantastis Hewan Langka Hewan Legenda Hewan Paling Hewan Prasejarah

Sains

Alam Fakta Makanan Flora Manusia Semesta

Sosial

Bangunan Paling Fakta Negara Kehidupan Prasejarah Sejarah Seni Budaya Paling Tokoh

Teknologi

Gadget Komputer
Desa Wisata Kerajinan Kuliner Minat Khusus Seni Budaya Wisata Alam Wisata Religi Wisata Sejarah
Kampung Dinoyo
Kampung Dinoyo Bertumbuh Berkat Keteguhan Pengrajin
Pintu Gua Sigolo-Golo
Pintu Gua Sigolo-Golo bagai Hamparan Surga
Candi Arimbi Gerbang Keraton Majapahit
Candi Arimbi Gerbang Keraton Majapahit sebelah Selatan