Kampung Jalawastu di Brebes Cermin Kehidupan Penjaga Budaya

Kali ini kami akan jelaskan seputar kampung jalawastu di Brebes cermin kehidupan penjaga budaya. Sebuah kampung kecil yang tertetak di Desa Ciseureuh, Kecamatan Ketanggungan, Kabupaten Brebes ini memiliki keunikan dengan keteguhannya dalam memegang adat budaya dari para leluhur. Kampung Jalawastu ditetapkan oleh Pemkab Brebes sebagai kampung adat.

Kampung Jalawastu di Brebes

Kampung Jalawastu di Brebes

Kampung Jalawastu masih melestarikan dengan berbagai kegiatan upacara adat, seperti Ngasa dan aneka tarian. Penduduk setempat juga sangat mempertahankan konstruksi dan tata ruang klasik khas di masa lampau. Seperti tertihat dari sebagian besar rumah penduduk yang berarsitektur kuno.

Kampung Budaya Jalawastu merupakan sekumpulan masyarakat yang berada di antara lereng gunung Kumbang dan gunung Sagara. Secara geografis, Desa Ciseureuh merupakan desa paling selatan dan salah satu dari tiga desa di kecamatan Ketanggungan yang kebanyakan warganya menggunakan bahasa Sunda Brebes.

Untuk menuju lokasi Kampung Jalawastu dari ibu kota kabupaten Brebes, harus menempuh jarak sekitar 50 kilometer. Atau bisa ditempuh dengan waktu 2,5 jam. Akses jalan yang rusak dan naik turun perbukitan, membuat wilayah tersebut sulit dijangkau.

Makanan Pokok Kampung Jalawastu

Warga kampung Budaya Jawalastu sering dianggap sebagai suku Baduy versi Jawa Tengah. Persamaan antara Jalawastu dengan Baduy utamanya dalam menganut kepercayaan atau keyakinan Sunda Wiwitan yang memiliki kepercayaan terhadap kekuatan alam dan arwah leluhur. Kehidupan di daerah Jalawastu cukup unik sebab mereka pantang makan nasi beras dan lauk daging atau ikan.

Makanan pokok di tempat ini adalah jagung yang ditumbuk halus sebagai lauk dan lalapan seperti dedaunan, umbi-umbian, terong, petai sambal dan daun reundeu yang diyakini merupakan daun yang hanya dapat tumbuh di gunung Kumbang. Masyarakat Jalawastu tidak menggunakan piring dan sendok yang terbuat dari bahan kaca, melainkan menggunakan seng atau dedaunan.

Upacara Adat (Ngasa) Kampung Jalawastu

Pantangan tentang makanan tersebut berdasar dari kisah Ngasa dengan makna perwujudan syukur kepada Batara Windu Buana yang merupakan pencipta alam. Batara mempunyai utusan yang disebut Burian Panutus yang konon selama hidupnya tidak pernah menanak nasi. Ia hanya mengonsumsi jagung serta umbi talas dan tidak memakan yang bernyawa.

Ada pendapat lain akan Ngasa yang berarti mangsa kasanga dalam hitungan kalender Jawa. Adat upacara Ngasa dilakukan sebagai bentuk sedekah gunung kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala karunia sekaligus juga merupakan permohonan doa keselamatan.

Upacara Ngasa dilakukan setiap satu tahun sekali pada Selasa Kliwon atau Jum’at Kliwon dan bertempat di sebuah Gedong, yaitu hutan kecil yang lokasinya berada di hulu desa. Upacara ini telah dilakukan oleh warga secara turun menurun dari ratusan tahun yang lalu.

Upacara Ngasa pertama kali diadakan pada masa pemerintahan Bupati Brebes XI Raden Arya Candra Negara. Seiring perkembangan zaman dan masuknya agama Islam di wilayah itu, warga secara bertahap memasukkan unsur dan ajaran-ajaran Islam dalam upacara adat Ngasta.

Keunikan Rumah Kampung Jalawastu

Keasrian hutan dan hasil pegunungan yang masih sangat terjaga, menjadikan masyarakat Jalawastu sebagian besar bekerja sebagai Petani. Banyak di antara mereka memanfaatkan hasil perkebunan serta hasil bumi lainnya untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Rumah di daerah ini cukup unik sebab setiap rumah tidak menggunakan semen dalam membangunnya. Namun hanya menggunakan kayu dan seng tanpa beratap genting apalagi keramik. Untuk besi masih diperbolehkan. Masyarakat Jalawastu yang saat ini mayoritas beragama Islam, memegang teguh peninggalan adat leluhur. Warga setempat menganggap membangun rumah dari semen dan material modern sebagai pamali.

Dikisahkan pada zaman dulu, pembuat genting tinggal jauh dari rumah warga dan belum terdapat kendaraan, sehingga untuk membawa genting harus dipikul dan berjalan puluhan hingga ratusan kilometer. Banyaknya tumbuhan alang-alang, oleh warga kala itu dimanfaatkan sebagai atap rumah, sebab tumbuhan alang-alang memberikan kenyamanana baik saat musim kemarau maupun penghujan.

Upacara Ngaguyang Kuwu Kampung Jalawastu

Tidak hanya memelihara warisan leluhur. Masyarakat Jalawastu juga menjaga upacara adat yang bersifat mendadak atau saat ekologi alam terancam dan sendi kehidupan masyarakat mulai terganggu. Misalnya ketika kemarau yang menimbulkan kekeringan berkepanjangan, mereka akan melaksanakan prosesi ngaguyang kuwu.

Tradisi ngaguyang kuwu ini merupakan sebuah ritual memohon hujan kepada Yang Maha Kuasa. Ngaguyang dalam bahasa Sunda berarti menyiram, sedang kuwu adalah sebutan mereka untuk sang kepala desa.

Upaya penjagaan warisan budaya serta kearifan lokal didukung oleh seluruh warganya, termasuk dari anak-anak yang tetap mempertahankan permainan tradisional di kesehariannya. Permainan tradisional ini memberikan penanaman nilai kebaikan pada jiwa mereka, contohnya mengakui akan kekalahan maupun kemenangan tanpa rasa dendam.

Jalawastu memberikan cermin kehidupan yang telah mulai menggerus keberagaman budaya serta tradisi leluhur. Kecanggihan teknologi boleh saja masuk dalam kehidupan, tapi menjaga warisan akan budaya dan segala hal yang bernilai baik tentu menjadi suatu kewajiban.

Sekian informasi berkaitan dengan kampung jalawastu di Brebes cermin kehidupan penjaga budaya, kami harap artikel kali ini mencerahkan kalian. Mohon artikel ini dishare agar semakin banyak yang memperoleh manfaat.

Referensi:

Leave a Reply

Marketplace Penghasilan Online Rekening Online SEO Traffic Generation Website
Tips Memilih Hosting Berkualitas
Tips Memilih Hosting Berkualitas dan Terbaik untuk Website
Domain dan Hosting
Seluk Beluk Domain dan Hosting yang Perlu Anda Ketahui
Peta Internet Marketing
Peta Internet Marketing secara Garis Besar

Hobi

Hewan Peliharaan Koleksi Liburan Olahraga Otofun Seni

Hunian

Bangunan Furniture Kebun dan Tanaman Rumah Tempat Tinggal

Menarik

Kecantikan Kesehatan Motivasi dan Inspirasi Parenting Tips Lainnya Tips Pendidikan

Rumah Tangga

Belanja Fashion Ide Kreatif Peralatan Perlengkapan Tips Rumahan
Nabi yang Diutus di Palestina
Nabi yang Diutus di Palestina Negeri Para Anbiya
Mengurangi Lemak Tubuh
Mengurangi Lemak Tubuh secara Alami dengan Puasa
Manfaat Puasa bagi Manusia
Manfaat Puasa bagi Manusia yang Perlu Diketahui
Menurunkan Berat Badan
Menurunkan Berat Badan lewat Puasa
Jenis Bahan Kain Tekstil dalam Industri Fashion
Program Kejar Paket A Setara SD
Jenjang Pendidikan Dasar di Indonesia Saat Ini
Harga Cash dan Kredit Berbeda, Bolehkah?

Fauna

Fakta Hewan Hewan Fantastis Hewan Langka Hewan Legenda Hewan Paling Hewan Prasejarah

Sains

Alam Fakta Makanan Flora Manusia Semesta

Sosial

Bangunan Paling Fakta Negara Kehidupan Prasejarah Sejarah Seni Budaya Paling Tokoh

Teknologi

Gadget Komputer
Desa Wisata Kerajinan Kuliner Minat Khusus Seni Budaya Wisata Alam Wisata Religi Wisata Sejarah
Kampung Dinoyo
Kampung Dinoyo Bertumbuh Berkat Keteguhan Pengrajin
Pintu Gua Sigolo-Golo
Pintu Gua Sigolo-Golo bagai Hamparan Surga
Candi Arimbi Gerbang Keraton Majapahit
Candi Arimbi Gerbang Keraton Majapahit sebelah Selatan