Masjid Laweyan Solo yang Memiliki Sejarah Panjang

Header 728 x 90 (2)
seminar marketing online

Masjid Laweyan Solo yang memiliki sejarah panjang. Sisa bangunan yang usianya tua adalah dua belas tiang utama masjid dari kayu jati. Bentuk arsitektur lainnya terdapat tiga lorong jalur masuk di bagian depan masjid. Tiga lorong itu menandakan tiga jalan menuju kehidupan yang bijak yakni Islam, Iman dan Ihsan. Menurut catatan pada papan nama Masjid Laweyan dibangun pada tahun 1546 tidak lepas dari pengaruh Ki Ageng Henis.

Masjid Laweyan Solo yang Memiliki Sejarah Panjang

Masjid Laweyan merupakan masjid tertua yang berada di Kota Solo (Surakarta) sampai saat ini sudah berumur lima abad terletak di Dusun Pajang RT 4 RW 4, Laweyan, Solo. Bangunan utamanya hanya 162 meter persegi. Masjid ini memiliki sejarah yang sangat panjang dan memiliki kontribusi besar dalam penyebaran agama Islam di wilayah Karesidenan Surakarta.

Masjid ini merupakan peninggalan Keraton Kasunanan Surakarta, namun saat ini pemeliharaannya dilakukan masyarakat sekitar yang rata-rata sebagai pengusaha batik. Ritual tradisi budaya Keraton Kasunanan Surakarta juga jarang dilaksanakan di Masjid Laweyan.

Awal berdirinya Masjid Laweyan adalah atas jalinan persahabatan Ki Ageng Henis dengan seorang Pemangku atau Pandhita Umat Hindu (bhiksu). Masjid Laweyan ada sebelum kota Solo terbentuk pada tahun 1745. Dibangun saat Sultan Hadiwijaya (Jaka Tingkir) berkuasa di Kerajaan Pajang. Masjid Laweyan ini merupakan masjid pertama di Kerajaan Pajang.

banner smart detox plus

Ini dibuktikan masjid ini lebih tua dari Masjid Agung Solo yang baru dibangun pada tahun 1763. Awalnya Masjid Laweyan merupakan pura agama Hindu milik Ki Beluk. Dari persahabatan Ki Beluk dengan Ki Ageng Henis yang merupakan sahabat Sunan Kalijaga, akhirnya Ki Beluk masuk Islam. Sanggar milik Ki Beluk diubah menjadi langgar (musala).

Seiring dengan banyaknya rakyat yang memeluk agama Islam, bangunan diubah fungsinya menjadi masjid. Pulau Jawa sangat terkenal dengan akulturasi kebudayaan Islam dan Hindu. Terutama di Solo, Jawa Tengah, multikulturalisme tersebut dapat terlihat adanya Masjid Ki Ageng Henis atau sering disebut sebagai Masjid Laweyan.

Masjid ini memiliki sejarah sangat panjang dan memiliki kontribusi besar dalam penyebaran agama Islam di wilayah Karesidenan Surakarta. Dengan mengunjungi masjid tersebut dapat menambah referensi pengetahuan dari budaya peninggalan-peninggalan yang ada di Jawa dan Jawa Tengah khususnya. Akulturasi budaya Islam dan Hindu merupakan fakta sejarah di Pulau Jawa.

banner smart detox plus

Masjid Laweyan yang terletak di Kampung Batik Laweyan Solo tersebut menjadi bukti sejarah akulturasi Budaya Islam-Hindu, karena bangunan Masjid Laweyan sebelumnya merupakan bangunan pura. Namun, saat ini bekas bangunan pura sulit ditemukan, karena Masjid Laweyan sudah mengalami pemugaran berulang kali. Berdampingan terdapat makam Ki Ageng Henis.

Sejak tahun 2012 makam Ki Ageng Henis ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Walikota Solo. Pada masa pemerintahan Kerajaan Pajang, masjid ini memang menjadi pusat pembelajaran. Saat ini hanya menjadi tempat ibadah biasa dan TPQ, tapi pengunjung dan peneliti dari luar daerah tetap terus selalu berdatangan.

Demikian info serba serbi tentang Masjid Laweyan Solo yang memiliki sejarah panjang semoga bermanfaat dan menambah wawasan

Jasa Pembuatan Website

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 
Ingin belajar internet marketing gratis segera hubungi 0857-8656-3128 atauKlik Disini
      jasa seo murah

      jasa seo murah

      artikel

      Temukn Harga Pagar BRC Surabaya Info, Jawaban, dan Hasil Terbaik!